Ketika Anak Kampung Ingin Kuliah


Tahun 2008 seharusnya menjadi salah satu tahun penuh bahagia bagiku, semua kawan begitu antusias saat mengetahui pengumuman kelulusan itu. SMK Al-Hikmah 01 Benda-Sirampog Brebes adalah saksi pilunya saya menghadapi kenyataan pahit ini. Air mata, untaian do�a, dan berbagai usaha sudah diupayakan, namun semua buntu tak ada tanda sedikitpun saya bisa meneruskan kembali jenjang pendidikan ini.
Terlebih jika ingat masalalu dimana untuk bisa sekolah ditempat inipun perjuanganku sangat keras, perlu penuh derai air mata hanya untuk membujuk orangtua berkata ya , untuk saya bisa meneruskan sekolah kembali.
Demikian pula saat lulus SD mereka hanya mengizinkan saya sekolah di SMPN02 Larangan, hal itu dikarenakan jarak yang dekat. Beruntung saya bisa diterima disekolah tersebut karena jika tidak maka orangtusaya takan mengizinkan saya sekolah di tempat lain.
Saya bukanlah satu-satunya anak yang mengalami hal yang sama pada saat itu, bahkan tak jarang ada beberapa kawan yang justru hanya bisa sekolah pada tingkat SD. Sungguh budaya tahun 2002-2008 yang sangat membelenggu pendidikan kami kala itu. Bahkan budaya menikah mudapun sangat luar biasa saat itu, ada teman perempuan sekelas  saya yang harus keluar saat duduk dibangku kelas 6 hanya karena harus menikah, yang lebih miris lagi ada pula adik kelas yang menikah saat duduk dibangku kelas 5.
Peran guru sangat penting kala itu, di SMPN02 Larangan menyarankan orangtua saya untuk melanjutkan studyku kejenjang SMA, meski saya hanya masuk peringkat 3 namun itu merupakan salah satu modal kuat untuk saya meyakinkan mereka, bahwa saya mampu untuk melanjutkan.
Kebanyakan orangtua selalu takut menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi, alasan utamanya karena mereka khawatir otak anaknya tak kuat mendapatkan pendidikan lebih. Alasan ini dapat kutepis dengan prestasi saat hendak melanjutkan ke jenjang SMA, namun tidak untuk tingkat perguruan tinggi. Meski saya tetap mampu mempertahankan prestasi dimana saat kelas 3 SMK berada pada peringkat 2 namun kali ini, peringkat bukanlah senjata ampuh untuk meyakinkan orangtua.
Ada segudang alasan lain yang membuat orangtua enggan menyekolahkan anaknya kejenjang perguruan tinggi, seperti kendala biaya, jarangnya anak di desa yang kuliah, kuliah hanya didominasi oleh anak-anak orang kaya, sampai pada habisnya harta benda orangtua yang mengkuliahkan anak-anaknya. Alasan yang paling kuat bagi orangtua untuk tidak menyekolahkan anaknya kejenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah dikarenakan banyaknya lulusan sarjana yang mengagur yang dibandingkan dengan lulusan-lulusan SD atau SMP yang sukses bergelimbang harta. Lagi-lagi saya harus menghela nafas untuk alasan yang satu ini, meski jiwa terus berontak karena sadar pendidikan bukan hanya untuk sekedar mendapatkan pekerjaan dan uang, ada banyak hal yang bisa diraih dari pendidikan yang lebih berharga dari intan permata.
Jiwa terus meronta, dalam sujud selalu bercucuran air mata. Setiap mengutarakan niat pada orangtua hanya marah yang didapat�. Lagi dan lagi hati begitu tertusuk , pedih� karena harapan untuk bisa kuliah takan mungkin bisa dikubur begitu saja�

Kerja di Jakarta

Misi utama untuk bisa kuliah begitu menderu menyemangati dada, setiap jalan kupandangi sembari membentangkan harapan seluas-luasnya. Saya pergi merantau untuk pertama kalinya dengan satu misi mencari uang untuk bisa meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Meski tanpa restu namun harapan ini takan pupus.
Bekerja di Sky line & Hotel Sarifan Pasific hingga akhirnya risent ke Plaza Hayam wuruk plaza. Berbekal semangat namun juga penuh sayatan luka. Setiap melewtai kampus di Jakarta selalu hati ini bak tersayat pedang tajam, pedih tak ada yang peduli. Paman dan anak-anaknya yang dari dulu tinggal di Jakarta adalah harapan satu-satunya, bukan untuk membiayai namun hanya butuh support dukungan. Namun apa yang terjadi mereka semua justru kompak menasehati bahkan kadang memarahi untuk saya mengurungkan niat agar bisa kuliah.
Dari Condet Batu Ampar 1 saya naik angkot A1 untuk berhenti di UKI (Universitas Kristen Indonesia) bukan untuk kuliah hanya untuk menunggu bus 115 yang mengantarkan saya kedepan hayam wuruk plaza. Sakit tak tertahan hati ini melihat para mahasiswa begitu bersemengat belajar dan berkarya dikampus tersebut. Banyak sudah kampus yang kulihat di Jakarta ini, ingin rasanya saya memakai almamater salah satu kampus tersebut.
Saya kerja semakin giat , teman tak masuk saya selalu siap longshift, tak jarang saya isi 3 shift sekaligus (pagi,siang,malam) hanya untuk mengejar target agar bisa kuliah.
Jiwa semakin rapuh jika tidak segera kuliah. Mata sudah lelah setiap malam hanya bisa terisak menangis. Kadang menggerutu kepada Tuhan akan takdir yang terasa sangat pahit ini.
Akhirnya kutekadkan diri , apapun yang terjadi saya harus kuliah mengambil jurusan Public Relations di BSI (Bina Sarana Informatika). Apa daya baru berniat mendaftar banyak masalah yang berkecambuk dilingkungan kerja, konflik terjadi dimana-mana. Jakarta yang keras seakan sedang menempa mentalku kala itu, ditambah lagi tiba-tiba saya sakit cukup parah.
Setelah sekian lama menahan penyakit yang faktor utamanya adalah dikarenakan selama berhari-hari sarapan hanya mie instant di kosan, akhirnya orangtua menyuruh saya pulang untuk istirahat sembari berobat.

Bekerja di Bandung

Tanpa Ijazah saya bekerja ditempat ini. Banyak yang sudah dilalui mulai dari kerja di salon dan cucian mobil, jualan bahan pakaian, sampai pada jaga warung dan konter. Semua masih pada satu misi �KULIAH�.
Kota kembangpun ternyata tak mampu mewujudkan harapan ini, hingga akhirnya diri pulang kembali.

Bekerja di Cirebon

Ada misi lain saya bekerja di Cirebon, kawan-kawan bisa mengetahui misi saya tersebut di postingan saya sebelumnya. Lagi dan lagi berbagai kota menjadi saksi pahitnya harapan anak kampung yang ingin kuliah. Sebagai pedagang baso keliling diri hanya bisa memandangi mereka yang kuliah. Memandangi berbagai kampus bangunan megah yang penuh asa dan harapan itupun hanya bisa dirasakan ditempat ini.

Bekerja di Marketing 

Bekerja dimarketing setidaknya mampu menyalurkan minat saya kuliah mengambil jurusan Public Retalions, lapangan dan complain coustomer saya jadikan sebagai kampus kehidupan. Terlebih saat saya sudah resmi menjadi leader hingga Asisstance manager.
Harapan ini semakin kuat, keyakinan diri untuk bisa kuliah semakin besar. Jika nanti saya sudah menjadi manager dan memiliki kantor sendiri tentu dengan omset 2.500.000-5.000.000 perminggu untuk bisa kuliah biaya bukanlah hal yang sulit lagi.
Namun setelah sekian lama bekerja berpindah tempat mulai dari Selawi, Pemalang hingga Waled Cirebon ternyata harapan itu pupus lagi dikarenakan gaji yang dijanjikan sebagai assistance manager hingga manager  tidak seperti yang diharapkan.

Kembali ke Jakarta

Berbekal harapan tinggi untuk bisa kuliah saya akhirnya bekerja kembali di Jakarta. Dikawasan industry Pulogadung sayapun diterima di Pabrik Firna Gelas Indonesia.
Diri mulai sadar usia semakin tua, sudah 4 tahun lebih  lamanya lulus SMK berkutat dalam keinginan tanpa kepastian membuatku lupa bahwa waktu sudah jauh meninggalkan harapan-harapan. Pertambahan usia inipun makin membuat diri sadar bahwa usia akan semakin mempersulit diri untuk mendapatkan pekerjaan.

Kuliah di Umus Brebes dengan Kekuatan Cinta

Jika kawan-kawan  melihat halaman Generasi Peduli Brebes di Facebook itu adalah salah satu halaman yang saya buat untuk menggambarkan betapa saya sangat mencintai tempat kelahiran saya BREBES.
Sejarah ini berawal ketik sore hari duduk termenung di kosan Pulogadung. Diri menghayal dan membayangkan wanita yang dicintai sudah menjadi orang sukses hingga ia tak mau mengenal saya kembali. Mimpi-mimpinya yang ingin kuliah adalah cambuk bagiku untuk memacu semangat, karena jika tidak kuliah kemungkinan besar saya bisa kehilangan kedua-duanya baik itu masa depan yang terus diliputi kesedihan karena tidak bisa kuliah bahkan cintapun bisa pergi meninggalkan.
Berbekal hasil browsing sore itu , saya mendapatkan informasi tentang Universitas Muhadi Setia Budi Brebes. Tak ada public relations, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesiapun bisa, pikirku kala itu. Tanpa pikir panjang akhirnya keesokan harinya saya pulang kerumah.
Sampai dirumah sayapun langsung menceritakan tekad ini pada orangtua, awalnya tentu mereka tak merestui . Berbekal motor MegaPro tahun 2011 saya langsung mendaftar ke UMUS untuk kemudian menjualnya sebagai bekal biaya  kuliah dan biaya hidup. Tekadku! saya harus bisa beli kembali motor tersebut dan Alhamdulillah motor itu belum bisa dibeli namun justru diganti dengan rizki yang lebih besar dari sekedar motor.
Awal kuliah di Umus kuliah begitu membara, meski ikut kelas ekstensi dimana pulang tak jarang lebih dari jam 7 malam namun semua dilalui dengan penuh semangat.
Namun entah kenapa jurusan Public relations tetap memabayangi pikiran. Tuhan memang tahu mana yang terbaik, sayapun akhirnya mengambil jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)  hingga pada semester 2 sudah mengajar di salah satu SD (Sekolah Dasar) di Desa sendiri. Hal inilah yang akhirnya yang membuat saya semakin ridho tidak mengambil jurusan Public Relations, jurusan yang bertahun-tahun saya dambakan.
Umus selain membekali saya ilmu pendidikan juga membekali saya ilmu wirausaha, alhasil sejak semester 3 pun saya sudah mencoba bebarapa kali berwirausaha mulai dari usaha ayam boiler yang ternak hanya 200 ekor , namun setelah 2 kali panen usaha ini saya sudahi. Hal ini dikarenakan saya tidak ada tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Baunya yang menyengat membuat saya lebih memikirkan kenyamanan masyarakat sekitar. Setelah itu betrnak kambing dan akhirnya menikah pada semester 6 untuk kemudian membuka usaha Tamacell, Tamacom,Tama Photocopy, dan Tama percetakan.
Jika dulu saya sering bolak-balik Cirebon untuk jualan dan berharap bisa kuliah, namun saat ini saya justru bolak-balik Cirebon untuk mengantar istri kuliah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Sebuah proses yang tak mudah, yang akhirnya bisa mengantarkan saya pada proses pengerjaan skripsi untuk mendapat gelar sarjana ini.
Semoga cerita saya bisa membuat kawan-kawan semakin bersyukur dan lebih giat lagi belajar�
Salam Kepedulian�

Detatang Kamal

Belum ada Komentar untuk "Ketika Anak Kampung Ingin Kuliah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel