Manusia Hanya Peminjam Manfaat Bukanlah Pemilik

Gb. Kendaraan di Parkiran Mall

Nikmat Allah begitu besar untuk kita, mulai dari alam rahim segala apa yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup dan bertumbuh terus Allah penuhi, begitupun setelah kita terlahir kedunia. Meski ibu makan seperti biasa namun setelah kita lahir, dari payudaranya bisa mengeluarkan air susu lengkap dengan berbagai nutrisi yang dibutuhkan bayi. Takan ada pabrik yang mampu membuat air susu yang bahan bakunya terbuat dari berbagai makanan yang ibu makan, inilah salah satu bukti kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir. Bahkan Dunia kesehatan telah membuktikan bahwa tidak ada makanan terbaik bagi bayi selain ASI, makanya sejak umur 0 � 6 bulan bayi hanya diberikan ASI saja, baru setelah usia 6 bulan � 2 tahun bayi bisa diberikan makanan pendamping ASI.
Sahabat saudaraku Fillah, betapa banyak sudah nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita, dan pasti kita takan mampu menghitung semua nikmat tersebut  bahkan mengingatnya sekalipun. Setelah beranjak dewasa diri mulai sadar bahwa apa yang diberikannya kepada kita hanyalah sebuah amanat. Betapa banyak manusia yang lalai akan Tuhannya, membangga-banggakan apa yang diamanatkan kepadanya hingga ia lupa bahwa ada yang memberikannya.
Jika memang mobil mewah, rumah megah, atau tumpukan rupiah itu memang milik manusia, lalu kenapa setelah jatah umurnya habis semua itu menjadi tidak berguna, bahkan justru bisa menjadi beban. Inilah bukti bahwa kita sebenarnya bukan pemilik harta benda, kita hanya peminjam  manfaat yang akan dimintai pertanggung jawaban.  Setiap yang dipinjamkan seharusnya kita kembalikan, sebesar dan sebanyak apa pinjaman manfaat yang Allah berikan kepada kita, sebanyak dan sebesar itu pula seharusnya kita bisa menyalurkan untuk hal-hal yang di Ridhoi-Nya.

Manusia Banyak yang Lalai Demi Mengejar Materi

Tulisan ini dibuat atas dasar diri yang mudah lupa akan  mengingat-Nya, pun demikian penulis berharap tulisan ini bisa memberi  manfaat kepada siapa saja yang sudi membacanya. Karena berasal dari manapun sebuah tulisan atau perkataan jika itu baik maka Insya Allah itu datangnya dari Allah, namun segala kekurangan dan kesalahan adalah suatu kepastian bahwa datangnya dari kebodohan dan ketidak pahaman penulisnya.
Saya pribadi terkadang merasakan, sesuatu hal yang  yang mungkin dianggap ringan namun bisa menjadi berakibat fatal bagi akhirat kita. Contohnya adalah saat sholat di TV terdengar acara yang begitu kita sukai sedang seru-serunya, tak jarang sholat pikirannya bercabang bahkan yang lebih parah akhirnya menyegerakan bacaan tanpa memperdulikan benar tidaknya bacaan sholat kita, akibatnya kemungkinan besar sholat bisa tidak diterima bahkan kelak bisa dilemparkan kembali kemuka kita sebagai bentuk kemarahan-Nya, Seandainya saja saya adalah ahli Al-Qur�an dan hadits tentu akan saya ikut sertakan sebagai penguat tulisan ini. Namun itu bukan keahlian saya, seandainya bisapun itu hanya jika saya mencari di internet atau membaca buku.
Banyak sekali aktivitas kita yang membuat kita lalai akan ibadah, bahkan tak jarang kita terus terfokus memikirkan dan mengejar materi, bekerja banting tulang tak peduli siang malam sampai lupa akan sholat, dzikir dan baca Al-Qur�an.
Seandainya hati mau jujur pasti hati menangis, hati bertanya �Wahai diri apa yang sudah kau dapat dari yang kau usahakan selama ini?�
Lalu jika kita ingat kealam yang pasti kita alami �Apa bekal yang sudah kita siapkan untuk bekal di sana?�
�Kenapa diri terus lupa , terus terfokus materi, padahal tak jarang banyak orang yang tahun lalu begitu banyak diberikan amanat harta, berkebun selalu menghasilkan uang, berdagang begitu pesatnya maju, kendaraan banyak, kini dia sedang ada dialam kubur. Lalu adakah hartanya berguna untuknya saat ini?�
Sungguh sebaik-baik harta benda adalah yang dicari tanpa harus melupakan ibadah kita kepada-Nya, setelah didapatkanpun ia kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya, sehingga semakin menumpuknya harta semakin menumpuk pula catatan amal ibadah kita.  Alhasil kerja keras kita takan sia-sia meski dipanggil kembali pada-Nya kapanpun, karena ia akan menjadi bekal Akhirat kita bukan justru menjadi beban kita.

Merasa Memiliki Membuat Manusia Rakus dan Sombong


Merasa memiliki harta akan membuat manusia mudah menyombongkan diri, ia akan mengaggap rendah sesamanya. Beda halnya jika kita sadar bahwa harta hanya titipan, kita laksana kurir yang ditugaskan untuk menyalurkan berbagai harta titipan tersebut. Tentu melihat sesama kita terutama yang kurang beruntung adalah suatu panggilan hati untuk segera menyalurkan amanat-Nya kepada orang tersebut. Rasa kasih dan sayangpun akhirnya akan tumbuh dalam diri kita.
Rasa memiliki harta titipan Allah akan membuat manusia rakus untuk terus memburunya, hidup bermegah-megahan, memiliki kendaraan mewah adalah suatu kebanggaan. Bahkan yang lebih parah dirinya akan merasa lebih segalanya dari yang lain. Membusungkan dada, meremehkan terhadap yang lain, terus ingin lebih adalah suatu cirri bahwa kita sedang ditimpa penyakit MERASA memiliki harta titipan.
Sebaik-baik harta titipan adalah harta yang bisa bermanfaat untuk Agama, sesama dan kemaslahatan umat.
Hal ini juga berlaku untuk titipan-Nya yang lain selain harta, baik berupa jabatan, anak bahkan pada pasangan. Secantik dan sebesar apapun kita mencintai pasangan kita hakikat-Nya ia hanyalah milik Allah. Tidak akan ada yang abadi menemani kita, oleh karena itu sebelum perpisahan itu datang, perlakukanlah pasangan kita dengan perlakuan-perlakuan terbaik kita. Terutama perlakukan ia sebagai amanat-Nya yang harus dijaga Dunia Akhiratnya.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang pandai dalam menjaga dan menggunakan setiap titipan amanat-Nya, sehingga akan beruntunglah kehidupan kita duinia dan akhirat.
Insya Allah�.

Aaaamiiin�

Salam Kepedulian

D E T A T A N G  -  K A M A L

Belum ada Komentar untuk "Manusia Hanya Peminjam Manfaat Bukanlah Pemilik "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel