Anda Ingin Cepat Menikah ? Inilah Rahasia Sukses Menikah Muda Setia Furqon Kholid

Gb. Youtube

Menikah adalah dambaan semua orang dewasa baik perempuan maupun laki-laki. Selain dapat memenuhi kebutuhan biologis menikah juga merupakan salah satu jalan ibadah dan untuk memiliki keturunan.

Nah bagi sobat yang ingin segera menikah, kali ini penulis akan menuliskan rahasia Setia Furqon Kholid bisa menikah di usia muda. Bukan hanya sekedar menikah tapi Setia Furqon Kholid dan Ina Agustina istrinya bahkan mampu memiliki suatu keluarga yang sangat berkualitas.

Seperti apakah cara Setia Furqon Kholid mendapatkan itu semua ?  Mari kita cermati dengan seksama ceritanya di bawah ini !


Rahasia Sukses Menikah Muda

Keluarga Setia Furqon Kholid. Gb. Instagram
Anda merasa galau ? Ingin menikah tapi belum punya ma'isyah (penghasilan) ? 

Sudah bosan melajang ? Ingin ada teman hidup yang bisa mendengarkan curahan hati Anda ? 

Ingin menjaga kesucian diri namun tetap berpahal ? 

Mau mendapatkan do'a terbaik selain dari do'a ibu ? 

Jika anda merasakan gejala-gejala diatas, kami punya solusinya. 

Mau tahu ? 

Ya... Solusinya adalah M E N I K A H .

Saat saya berumur 20 tahun saya bertekad untuk menikah di usia 21 tahun, kenapa ? 

Walaupun saya belum tahu ilmunya saat itu, tapi saya yakin dengan menikah ada banyak keberkahan yang didapatkan. Maka beberapa persiapanpun saya lakukan, mulai dari memperbaiki diri, memperbanyak amal shaleh dan ibadah, sampai tentunya mengikhtiarkan dengan sungguh-sungguh.

Takdir berkata lain, sampai lulus kuliah di usia 22 tahun saya belum mendapatkan seseorang yang pas untuk menjadi pendamping terbaik. Ternyata saat itu saya terlalu berfokus pada kriteria wanita yang menurut saya mendekati sempurna (perfect).


Dalam perjalanan hidup, saya banyak mendapat saran dari guru-guru kehidupan, bahwa menikah bukan masalah dengan "siapa dan kapan," namun masalah "mengapa dan bagaimna."
Akhirnya tekadpun dipancangkan , Maret 2011 saya harus menikah. Namun lagi-lagi saya belajar untuk tidak sombong dan mengatur kehendak Allah, kita punya rencana Allah pun punya rencana. Rencana Allah pasti yang terbaik bagi kita.

Berbagai ujian menjadi public figure juga mendera. Mulai dari banyak fans wanita yang menyukai bahkan beberapa sempat menyatakan cinta melalui sms, pesan di FB sampai pesan tertulis.  (Akhirnya yang jadi korban ya keluarga, hehe....
Kakak saya tercinta, Satia Baktiyani Wahidah, S.Hi banyak di dekati oleh akhwat (wanita) yang suka dan siap menjadi istri saya. Belum lagi adik saya tersayang, Satia Syifa Ruhul Fikriyah banyak kecipratan berkahnya karena banyak wanita yang memberi hadiah sambil PDKT alias pendekatan. Hehe . . . lucu kalau mengingat masa itu.

Jujur saja saya masih tidak berani untuk mengungkapkan keinginan saya kepada ayah dan umi untuk menikah. Rasanya belum bisa sugguh-sungguh membalas semua jasa mereka yang begitu ikhlas. Selain belum rela harus meninggalkan mereka dan membina keluarga baru dengan ilmu yang masi minim. Tapi saya mulai dengan memperbanyak ilmu dan memperkuat keimanan. Lalu saya ubah persepsi, "Memangnya kalau menikah, gak bisa ngasih dan bantu orang tua ? Justru saya harus  lebih bersemangat  karena ada dua keluarga yang akan mendo'akan saya." 

Masih teringat saya saya memberanikan diri bertanya pada Umi, "Umi, aa punya dua cita-cita yang ingin diwujudkan, melanjutkan kuliah S2 atau menikah dulu. Gimana pendapat Umi?."

Umiku yang bijak dan sederhana itu membalas sambil tersenyum, "Mana saja yang Allah mudahkan terlebih dulu, lakukan itu. Insya Allah semua cita-cita Aa bisa terkabul."

Setelah ada lampu hijau dari kedua orangtua juga saudara yang lain, mulailah ikhtiarkau untuk menjemput tulang rusuk yang kan menjadi bidadari dunia akhiratku. Liku-liku yang sungguh indah dan penuh heroisme, mulai dari rekomendasi dari seorang sahabat, ikhtiar mencari dibeberapa daerah, cari seorang hafidzoh sampai ayahp pun turun tangan untuk membantu mancarikan.

Jujur saja, bulan-bulan itu, saya baru merasakan bagaimana pusingnya mencari pasangan hidup. Maklum saja, saya belum pernah pacaran seperti kebanyakan orang sekarang. Jangankan untuk sms an apalagi berpegangan tangan, sekedar untuk melihat lawan jenis saja mesti di jaga. Alhamdulillah buah dari shaum mata itu berbuah syurga, akhirnya Allah mudahkan saya bidadari bermata jeli itu.

Berawal dari melihat secara tidak sengaja di depan masjid Daarut Tauhid Bandung, saat itu saya sedang mengendarai mobil menuju radio MQFM. Ada seorang wanita dengan perawakan cukup tinggi, menggunakan baju gamis hitam berkerudung ungu.

Detik itu saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ajaibnya, ternyata ia juga datang ke radio MQ. Selidik demi selidik , ternyata ia adalah seorang karyawan di MQFM. 



Karena waktu itu saya bersama dengan salah seorang tim STC, saya bilang, "Kenal nggak dengan teteh itu ?." Eh sahabat saya malah bercanda, "Suka ya... saya kenal kok, dia kemarin jadi MC di jurusan, bagus kok, seorang trainer juga, hanya agak jutek." Saya tanya, "Siapa namanya?." Sahabat saya jawab , " Teh Ina."

Perjumpaan itu sudah berlalu , namun sampai di rumah saya tidak tenang. Sayaa cari-cari di FB namanya susah , ternyata ditemukan nama lengkapnya Ina Agustina. Setelah di search di google ada beberapa nama Ina Agustina. Salah satu yang saya temukan nama Ina Agustina adalah lulusan Universitas Gunadarma, Jakarta. Hati saya semakin menciut saking susahnya mencari nama dan fotonya.

Dua minggu setelah kejadian itu, saya mencoba sebuah peruntungan untuk sms seorang sahabat untuk membantu saya mencarikan jodoh. Sahabat saya itu seorang penyiar di MQFM juga. Namanya Kang Sigit. Isi sms nya seperti ini,

"Assalamualaikum, kang saya Furqon. Kang, maaf nih agak rahasia, bisa minta bantuan, tolong carikan akhwat yang siap menikah ya. Kalau ada tolong sms. Mungkin bisa ta'arufan (kenalan) dulu."

Kirain nggak langsung dijawab, ternyata dibalas juga lima menit setelah saya sms.


"Afwan maaf  baru dibalas, insya Allah ada 2 akhwat di MQ yang belum menikah, tapi saya lebih merekomendasikan yang satu ini. Namanya Ina Agustina. Boleh cek aja di Fbnya dulu."

Masih ingat saat itu saya langsung loncat dan mencari Umi, kebetulan ada ayah juga. "Umii... namanya Ina Agustina, yuk kita cek di Facebook."

Sayangnya, Ina gak pernah majang fotonya di FB. Saya sebenarnya masih ragu, Ina mana yang dimaksud. Apakah yang saat itu saya lihat di DT ? Ah... Sulit diungkapkan perasaan yang bercampur aduk saat itu.

Besoknya, saya minta tukar biodata via email. Lucunya saat itu ia malah kirim CV untuk melamar kerja. Terkesan sombong di awal, hehe. Bagus sih, dari mulai prestasinya, pengalaman mengisi dan mengikuti training, sampai organisasi yang pernah diikuti. 

Kesimpulan di awal "Akhwat berprestasi yang banyak diminati."

Benar saja, setelah menikah saya baru tahu, ternyata banyak banget lelaki atau bahasa kerennya ihkwan yang pernah ta'aruf. Saya tanya kenapa memilih saya, "Karena kebanyakan dari mereka nggak punya prinsip dan gantel." Ehm... agak terbang hidung saya mendengar sanjungannya. Hehe...

Setelah tukar biodata, kami saling mempelajari karakter dan latar belakang keluarga. Saya sih belum bisa cek keluarganya, karena harus langsung berangkat ke Aceh untuk amanah training. Saat di Aceh itulah, keluarga saya mengundang Ina untuk silaturahim ke rumah, dan ayah saya mengutarakan maksud suci itu.


Singkatnya, setelah keluarga saling bertemu dan silaturahim, disepakati seminggu setelah pertemuan itu diadakan acara khitbah. Saat khitbah yang dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak, ada keajaiban menarik, "Ina menantang kami untuk langsung akad hari itu juga." Panas dingin juga saya mendengar kata-kata itu. Kalau saya siap saja, apalagi Umi sudah mempersiapkan maharnya. Namun ayah yang bijak lebih memilih untuk mempersiapkan akad dan walimah lebih baik, dengan berbagai pertimbangan.

Alhamdulillah,dengan berbagai lika-liku ujian untuk dapat menggapai mahligai rumah tangga, akhirnya Sabtu, 11 Juni 2011 kami resmi menikah dengan penuh khidmat dan bersahaja. Tanpa gedung mewah, mobil hias, atau kemeriahan panggung hiburan. Saat ditanya "Kenapa nggak mewah dan terkesan wah ?" sebelumnya saya sudah berpesan kepada calon istri, bahwa lebih baik uangnya tidak dihabiskan untuk acara resepsi yang hanya sehari saja. Maka lebih baik uangnya ditabung untuk renovasi rumah dan investasi pendidikan. Alhamdulillah, semuanya tercapai. Yang penting berkah.


Tak terasa saat buku "Muda Karya Raya" ditulis dan dicetak pertama kali, kami sudah 10 bulan membangun mahligai rumah tangga. Subhanallah, indah sekali membangun cinta. Butuh lebih dari 5 bulan untuk membangun dirinya, bahasa kerennya pacaran setelah menikah. Wueenak banget gitu loh ! hehe

Kalau dulu harus nyuci baju dan nyetrika sendiri, sekarang sudah ada yang nyuci dan nyetrikain. Kalau dulu kecapean setelah training, langsung tidur aja. Sekarang sudah ada yang menunggu untuk siap mijitin. Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan.

Kini, alhamdulillah Allah amanahkan istri untuk mengandung janin yang sudah berusia 5 bulan. Semoga bisa menjadi anak sholeh, kuat iman, luas ilmu, hebat fisik, lapang ekonomi dan mulia akhlak. Amin.


Surat Cinta Tuk Belahan Jiwa

Kau belum hadir dalam seketsa mimpiku 
Namun kau sudah tercatat sebagai belahan jiwaku
jauh sebelum kita terlahir ke dunia
Aku tak mengenalmu 
Begitu juga kau yang belum tentu mengenalku
Namun aku percaya, kau titipan Allah untukku

Kelebihanmu, mendecak kekaguman dalam hati
memaksaku tuk melafadzkan tahmid cinta
kekuranganmu, cermin bagiku
yang membuatku sadar, kita hanyalah manusia biasa
yang punya salah dan lupa

Aku tak memilihmu, namun Allah yang pilihkan dirimu untukku
Maka, mari kita sinergikan potensi, lejitkan semangat
dan ciptakan karya-karya bersama
Hingga saatnya kelak...
Kita berjuang tuk membina generasi pembaharu
yang nafasnya dzikir, lafadznya Qur'an, akhlaqnya Rasulullah
tidurnya ibadah, hidupnya ma'rifat, matinya syahid


Tulang rusukku,
Saat Mitsaqon Ghalidza itu terucap
Bantu aku menjadi imam yang adil dan penuh cinta kasih 
untuk bahtera yang kita kembangkan
untuk ikatan yang kita jalin
Semoga keberkahan pada awal dan prosesnya
begitu juga keberkahan pada penghujungnya

Kuingin bersamamu hingga akhir waktu,
sampai kita dipersatukan kembali di JannahNya
dalam lautan cinta abadi yang hakiki
di akhirat nanti...

Setulus hati,
dari belahan jiwamu


Tulisan ini diambil dari Buku Muda Karya Raya pemberian Guru, Sahabat, dan Soudaraku Fillah




Sumber : Kholid, Setia Furqon. 2012, Muda Karya Raya, Bandung : Rumah Karya Publishing




Belum ada Komentar untuk "Anda Ingin Cepat Menikah ? Inilah Rahasia Sukses Menikah Muda Setia Furqon Kholid"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel