Makalah Penyakit Ikan dan Udang : Taura syndrom virus (TSV)

Taura syndrom virus (TSV) Gb . wikipedia.org

BAB I


PENDAHULUAN

 Taura syndrom virus (TSV) : Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh mikroorganisme lain, pakan maupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung untuk kehidupan ikan. Maka dari itu, timbulnya serangan penyakit ikan merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini telah menyebabkan stres pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit (Afrianto, 1992).

Organisme penyebab penyakit pada ikan sangatlah beragam, salah satunya adalah virus. Virus adalah organisme penyakit yang sangit kecil dengan ukuran 20-300 nanometer. Mayoritas virus patogen yang biasa menyerang ikan merupakan virus berbentuk peluru. Di dalam tubuh ikan, virus akan bersifat laten dan akan meledak sebagai wabah ketika ikan berada pada kondisi lemah. Ikan yang terserang virus sering kali tanpa disertai tanda klinis, tetapi infeksinya bisa membuat jaringan tubuh ikan mengalami kerusakan, terjadi penurunan pertumbuahan, menyebabkan hilangnya fungsi selular, dan dapat menyebabkan kematian (Saparinto,2010).

Taura syndrom virus (TSV) adalah salah satu penyakit ikan yang disebabkan oleh virus. Virus ini menyerang golongan udang putih (P. vannamei). Gejala klinis yang muncul pada udang yang terserang antara lain, Udang terlihat tidak nafsu makan, lemah dan berenang lambat tidak terarah, telson/ekor terlihat memucat, kulit lunak dan pada infeksi alami terlihat kemerahan pada ekor dan anggota gerak. Untuk mengetahui lebih banyak tentang TVS , cara penyerangangnnya terhadap inang, gejala yang timbul pada inang, dan cara penanggulangannya maka akan dibahas dalam makalah ini.


BAB II

Taura syndrom virus (TSV)
A.    Sejarah

Taura Syndrome pertama kali muncul di Pasifik udang putih (P. vannamei) pertanian di Sungai Taura dekat Guayaquil di Ekuador pada tahun 1992, hampir bersamaan dengan munculnya WSSV pada udang kuruma di Cina. Penyakit ini menyebar cepat ke seluruh daerah pertanian udang sebagian Amerika Tengah dan Selatan. Pada tahun 1998, virus ini terdeteksi di Taiwan dan sekarang telah menyebar di seluruh sebagian besar Asia. Taura Syndrome Virus (TSV) berukuran kecil, telanjang (+) ssRNA virus yang saat ini diklasifikasikan sebagai spesies dari famili Dicistroviridae, ordo Picornavirales. Virus yang dikenal paling erat terkait termasuk virus serangga di Cripavirus genus seperti virus kriket kelumpuhan dan Drosophila C virus. Fase akut, transisi (pemulihan) dan kronis infeksi TSV telah dijelaskan. Mortalitas pada fase akut dapat setinggi 95% tetapi tetap terinfeksi udang yang masih hidup dan potensi sumber penularan virus. Penyebaran yang cepat dari TSV di Amerika dan kemudian ke Asia juga telah dikaitkan dengan perdagangan internasional pada udang hidup.

B.     Klasifikasi

Berdasarkan karakteristik biologis dan fisik, virus Taura syndrome diklasifikasikan sebagai anggota dari ordo Picornaviridae. Kemudian direklasifikasi dalam famili Dicistroviridae, genus Cripavirus. Setelah itu dipindahkan ke genus kedua dalam keluarga yang sama yaitu Aparavirus.
Group          : Group IV ((+)ssRNA)
Ordo            : Picornavirales
Family          : Dicistroviridae
Genus          : Aparavirus
Species         : Taurasyndrome virus

C.    Nama Penyakit

Sindrom Taura adalah salah satu penyakit yang lebih dahsyat mempengaruhi udang budidayaindustri di seluruh dunia. TSV adalah penyakit yang menyerang pada kutikle epidermis kulit luar (outer exoskeleton) pada udang.Virus taura (TSV)  merupakan penyakit import (dari negara asal udang vaname ujung ekor berwarna merah (warna ganda), disertai dengan adanya bercak hitam pada kulit, kulit lembek (lunak/keropos) disertai kematian secara bertahap atau massal.

D.    Morfologi

Virus ini termasuk virus berukuran kecil dengan genome single strand RNA, virion berukuran diameter 32nm terdiri dari 10.205 nukleotida (termasuk 3 'ekor poli-A), bentuk ikosahedral yakni berbentuk seperti bulat, tetapi kalau dilihat secara dekat akan nampak ikosahedron yang terdiri dari segitiga sama sisi menyatu bersama-sama dalam bentuk bola. Bahan genetik sepenuhnya tertutup di dalam kapsid. Virus dengan struktur ikosahedral yang dilepaskan ke lingkungan ketika sel mati, pecah, sehingga melepaskan virion. Contoh virus dengan struktur ikosahedral yang virus polio. �Open reading frame 2�(ORF2) mengandung sequen struktur protein untuk TSV  termasuk tiga protein kapsid utama yaitu VP1, VP2, dan VP 3. TSV tidak memiliki amplopdengan morfologi ikosahedraldan kepadatan apung1.338g/ml. Genom iniberuntai tunggal positif-sense. Kapsid terdiri dari tiga protein utama: CP1(40 kDa), CP2(55 kDa) danCP3 (24 kDa) bersama protein kecil58 kDa.
Gambar bentuk virus denganmorfologi ikosahedral


E.     Inang

Virus bereplikasi dalam sitoplasma sel hospes. Hospes yang utama dari TSV adalah udang dari regional Pacific, P. Vannamei, walaupun spesies udang lainnya bisa juga terinfeksi. Beberapa spesies udang lain yang telah diketahui peka terhadap infeksi TSV adalah: P. setiferus, P. stylirostris, P. schmitti, Metapenaeus ensis. P. Chinensis. Taura Syndrom pada umumnya menyerang juvenil P.vannamei 0.1 � 5 gram pada saat 2 � 4 minggu setelah tebar pada tambak atau bak kultur.

F.     Gejala klinis

Pada budidaya udang, TSV dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi dalam kurun waktu 15-40 hari pada saat mulai dilakukan stoking dalam kolam. Diperkirakan penyakit akan muncul pada fase akut kemudian berangsur menjadi kronik sampai lebih dari 120 hari.
Infeksi TSV ada 2 (dua) fase, yaitu fase akut dan kronis. Pada fase akut akan terjadi kematian massal. Udang yang bertahan hidup dari serangan penyakit TSV, akan mengalami fase kronis. Pada fase kronis, udang mampu hidup dari tumbuh relatif normal, namun udang tersebut merupakan pembawa (carrier) TSV yang dapat ditularkan ke udang lain yang sehat.
Gejala klinis timbul pada awal penyakit sekitar 7 hari setelah infeksi, kadang 4-7 hari. Udang terlihat tidak nafsu makan, lemah dan berenang lambat tidak terarah. Telson/ekor terlihat memucat, kulit lunak dan pada infeksi alami terlihat kemerahan pada ekor dan anggota gerak. Angka kematian pada fase ini dapat mencapai 95%. Fase akut tersebut bila dilihat secara histologi terlihat adanya karyopiknosis dan karyoreksis (inti sel memadat dan pecah) dan terlihat adanya �inklusion bodi� pada sitoplasma (materi kemerahan padat) pada sel epitel kutikula. Pada fase transisional, terlihat adanya melanisasi pada kutikula daerah kepala dan dada serta ekor. Hal tersebut mungkin terjadinya proses kesembuhan atau adanya infeksi sekunder oleh bakteri. Pada pemeriksaan molekuler daerah tersebut negatif TSV. Proses melanisasi tersebut berjalan menuju penyakit kronis pada fase berikutnya. Fase kronis terlihat pada 6 hari setelah infeksi dan berlanjut sampai sekitar 12 bulan dalam komdisi penelitian. Fase ini dapat dilihat secara histologis dengan menghilangnya lesi gejala akut dengan ditemukannya limfoid vakuolisasi.



    

G.    Teknik Pengendalian

Langkah utama pengendalian penyakit TSV harus dimulai dari upaya mencegah masuknya patogen ke dalam sistem budidaya udang melalui regulasi dan teknis yang terintegrasi dan berkesinambungan. Masuknyapatogen ini dapat berasal dari induk, benur, air, carrier, pakan, pelaku budidaya, dan seluruh komponen produksi udang.

Rekomendasi strategi pengendalian penyakit TSV adalah memadukan antara aspek teknis dan regulasi secara sinergis yang disepakati oleh seluruh komponen (asosiasi), dilengkapi dengan prosedur operasional baku (Standard Operational Procedure/SOP), disosialisasikan secara rutin, dikawal oleh pemerintah dan dilakukan secara bersama-sama.
Pemahaman yang sama oleh seluruh komponen bahwa penyakit tersebut sangat berbahaya karena masuknya satu virion TSV ke dalam unit budidaya akan menjadi ancaman serius bagi keberhasilan budidaya. Strategi pengendalian penyakit TSV harus didasarkan pada upaya mencegah masuknya virus tersebut melalui berbagai jalur (konsep biosecurity).

H.    Cara Menanggulangi

Umumnya, penyakit viral tidak ada obatnya. Hanya bisa dicegah atau diperlakukan dengan cara sebagai berikut :

         hindari stres
         menggunakan probiotik untuk memperbaiki kualitas air
         mengurangi pakan hingga 50%
         berikan mineral, dolomite untuk mempercepat pengerasan kulit
         berikan vitamin dan imunostimulan

Jika dalam proses penyembuhan pada tubuh udang akan tampak bercak hitam danakan hilang setelah beberapa kali molting. Tetapi jika sembuh akan bersifat carier.


BAB III
KESIMPULAN

Sindrom Taura merupakan salah satupenyakit yang lebih dahsyat mempengaruhi udang budidayaindustri di seluruh dunia. Taura syndrome virus menyerang pada kutikle epidermis kulit luar (outer exoskeleton) pada udang. Virus ini termasuk virus berukuran kecil dengan genome single strand RNA, virion berukuran diameter 32nm terdiri dari 10.205 nukleotida (termasuk 3 'ekor poli-A), bentuk icosahedral. Taura Syndrom pada umumnya menyerang juvenil P.vannamei 0.1 � 5 gram pada saat 2 � 4 minggu setelah tebar pada tambak atau bak kultur. Infeksi TSV ada 2 (dua) fase, yaitu fase akut dan kronis. Pada budidaya udang, TSV dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi dalam kurun waktu 15-40 hari pada saat mulai dilakukan stoking dalam kolam.

Gejala klinis timbul pada awal penyakit sekitar 7 hari setelah infeksi, kadang 4-7 hari. Salah satu gejala yang timbul yaitu udang terlihat tidak nafsu makan, lemah dan berenang lambat tidak terarah. Langkah utama pengendalian penyakit TSV harus dimulai dari upaya mencegah masuknya patogen ke dalam sistem budidaya udang melalui regulasi dan teknis yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Cara menanggulangi penyakit viral ini pada umumnya tidak ada obatnya. Hanya bisa dicegah atau diperlakukan dengan beberapa cara seperti  menghindari stres dan mengurangi pakan hingga 50%.








DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E & Liviawati, E. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Yogyakarta: Kanisius.
Saparinto, Cahyo.2010. Budidaya Ikan di Kolam Terpal. Jakarta : Niaga Swadaya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Taura_syndrome. Diakses tanggal 30-05-2014.


Belum ada Komentar untuk "Makalah Penyakit Ikan dan Udang : Taura syndrom virus (TSV)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel