Makalah Penyakit pada Ikan : Cryptocaryoniasis oleh Cryptocaryon Irritans


BAB I

PENDAHULUAN

 Cryptocaryoniasis oleh Cryptocaryon Irritans: Bentuk kehidupan bersama suatu organisme disebut simbiosis. Salah bentuk hubungan simbiosis adalah parasitisme, dimana ciri khas hubungan simbiosis ini adalah salah satu jenis organisme yang disebut �parasit� hidup dan mendapat keuntungan dari organisme lainnya yang disebut �inang�. Untuk menjamin kelangsungan hidupnya sebagai parasit berbagai adaptasi dilakukan, diantaranya adalah adaptasi morfologi dan fisologis. Parasit umumnya selalu lebih kecil dari inangnya dan menggerogoti inangnya secara perlahan, tingkat reproduksi parasit umumnya lebih besar dari tingkat reproduksi inangnya, cara invasi parasit dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu kontak langsung, melalui rantai makanan, phoresis dan penetrasi pada kulit. Siklus hidup parasit ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Siklus hidup langsung tidak memerlukan inang antara dan hanya membutuhkan inang utama, sedangkan siklus hidup tidak langsung memerlukan inang antara dan inang utama dalam siklusnya. Ikan dapat berperan sebagai inang antara atau inang utama tergantung jenis parasit yang menginfeksi.

Terdapat berbagai macam parasit, yaitu bakteri, protozoa, dan cacing. Salah satu parasit yang akan dibahas dalam makalah ini adalah jenis Protozoa. Protozoa adalah organisme eukaryot uniselular berukuran mikroskopis yang umumnya memiliki inti yang jelas. Parasit ini memiliki kelompok yang sangat besar yang parasit pada ikan. Pada kondisi budidaya, spesies protozoa tertentu dapat menyebabkan penyakit yang menghasilkan mortalitas tinggi yang berdampak pada kerugian ekonomi yang cukup besar pada ikan air tawar maupun ikan air laut. Diantara golongan parasit pada ikan air tawar, Ichthopthirius multifilis telah menyebabkan banyak masalah dalam budidaya ikan air tawar. Pada ikan air laut parasit Cryptocaryon irritans dan Amyloodinium ocellatum adalah parasit protozoa yang telah menimbulkan masalah masing-masing pada ikan kerapu dan ikan ikan konsumsi maupun ikan akuarium air laut.

Untuk mengatasi penyakit parasiter tersebut perlu dilakukan pengobatan. Pengobatan merupakan langkah yang ditujukan untuk memulihkan kondisi kesehatan ikan yang telah terinfeksi oleh penyakit parasiter. Sifat dari patogen menentukan pilihan terhadap obat yang harus diberikan. Pemilihan obat merupakan hal yang tidak mudah, berbagai pertimbangan harus dilakukan terutama bahwa obat yang digunakan hanya bersifat racun terhadap parasit tetapi tidak bersifat racun bagi ikan dan tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan untuk memberikan obat pada parasit adalah ukuran parasit, siklus hidup parasit, dan hubungannya dengan inang. Selain itu beberapa pertimbangan lainnya adalah bahwa kemampuan ikan mentolerir obat-obatan sangat bervariasi tergantung pada spesies ikannya, ikan yang sakit cenderung kondisinya lemah dan kurang toleran terhadap stres. Ikan sakit biasanya cenderung untuk berhenti makan sehingga pemberian obat lewat makanan kurang efisien.




BAB II

Cryptocaryon Irritans  Penyebab Penyakit Cryptocaryoniasis


A.    Klasifikasi Parasit

Klasifikasi
Kingdom           : Protista
Classis                : Oligohymenophora
Sub Classis        : Hymenostomata
Ordo                  : Hymenostomatida
Subordo             : Ophryoglenina
Familia               : Ichthyophthiridae
Genus                : Cryptocaryon
Spesies               : Cryptocaryon Irritans

B.     Nama penyakit

Ikan memiliki banyak penyakit yang dapat disebabkan oleh protozoa,. Salah satu penyakit tersebut dinamakan Cryptocaryoniasis.

C.    Nama Parasit

Organisme penyebabnya adalah Cryptocaryon irritans Brown, dijumpai secara luas seperti halnya Ichthyophthirius multifilis yang terdapat di air tawar. Pertama kali ditemukan di Jepang dan saat ini penyakit dapat ditemukan di seluruh dunia.

D.    Inang

Parasit protozoa ini menimbulkan masalah masing-masing pada ikan kerapu dan ikan ikan konsumsi maupun ikan akuarium air laut.

E.     Ciri-ciri morfologi parasit

Theront berbentuk pyriform dengan panjang 25 � 60 �m. Trophont berukuran diameter 60 � 450 �m. Memiliki makrobukleus dan beberapa mikronukleus. Trophont hidup pada ikan dan telah cukup mendapatkan makanan akan meninggalkan ikan sebagai fase tomon berenang bebas dan selanjutnya mengekskresikan cysta. Didalam cysta parasit mengalami differensiasi menghasilkan 200 atau lebih daughter tomite. Tomite akan berkembang menjadi fase infektif berenang bebas yang disebut theront yang akan melekat dan menembus kulit dan epithel insang ikan. Setelah theron mencapai inang, akan berkembang menjadi fase trophont. Pada stadium belum dewasa protozoa ini cenderung berbentuk seperti buah pear.

F.     Gambar

 










G.    Sikus Hidup

Sesudah 8 hari hidup pada ikan parasit ini sudah cukup dewasa untuk melangsungkan diri dari tubuh ikan, dan melayang-layang dalam air untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia melekatkan diri pada suatu benda, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, gangang, dan sebagainya serta membentuk suatu lapisan kulit yang terlihat sebagai lendir. Bentuk demikian disebut cyste. Parasit ini dalam cyste membelah diri.

Dalam waktu 5 jam (lamanya tergantung suhu), terbentuklah beribu-ribu protozoa kecil-kecil. Kemudian dinding cyste itu pecah, lalu berhamburlah anak-anak parasit tersebut, melayang-layang dalam air, siap untuk menyerang ikan.

Apabila dalam waktu 48 jam mereka tidak dapat menemukan ikan-ikan untuk ditempelinya maka anak-anak parasit itu akan mati. Jika ada ikan, mereka segera menempel dan tumbuh pada selaput lendir ikan.

Pada selaput lendir ikan, parasit protozoa ini hidup terbungkus oleh selaput sel lendir. Obat-obat pemberantas tidak dapat meresap ke dalam parasit dalam keadaan tersebut, tanpa merusak selaput lendir ikan yang bersangkutan juga. Karena itu fase pre cyste, adalah fase yang mudah dikenai obat tanpa merusak ikan yang bersangkutan. Demikian juga cyste ketika benih parasit ini sudah keluar dari cyste. Sedangkan pada fase cyste, penyakit ini juga tidak tertembus oleh obat, karena berdinding lendir.

H.    Akibat dan Gejala yang Muncul

Tanda-tanda klinis mirip yang ditemukan pada infeksi Ichthyopthirius, yaitu terbentuk cysta berwarna putih pada permukaan tubuh. Terjadi produksi mukus berlebihan pada ikan terinfeksi.

Efek secara umum sama dengan yang ditemukan pada infeksi Ichthypthirius, yaitu gangguan osmoregulasi, kehilangan nafsu makan, terjadi produksi mukus berlebihan dan sel epithel insang dan kulit ikan yang terinfeksi menjadi hyperplastik dan erosi dalam beberapa kasus.

Diagnosis dapat dilakukan dengan membuat wet mount, atau siapan basah pada slide glass. Mukus diambil dari organ terinfeksi lalu diletakkan pada slide glass dan mengamati di bawah mikroskop. Adanya protozoa berukuran besar menunjukkan Cryptocaryonosis. Inti dari C. Irritans berbentuk seperti sabit.

I.       Bagaimana cara menanggulanginya

Pencegahan terhadap parasit ini dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Berbagai jenis bahan kimia telah digunakan untuk melakukan kontrol terhadap parasit ini. Melakukan pemisahan ikan dari cysta tomon sebelum menjadi theront, dengan melakukan pemindahan ikan pada akuarium yang bersih setiap selang 3 hari. Tanki harus dibersihkan dan dikeringkan sebelum dan setelah digunakan. Metode lain adalah meletakkan ikan di laut dalam karamba selama 10 hari. Kontrol dengan bahan kimia dapat dilakukan dengan 0.5 ppm CuSO4, 25 ppm formalin selama 5 � 7 hari, selanjutnya pindahkan ikan pada tanki yang sebelumnya telah dikeringkan dan bebas dari parasit selama 2 kali dengan interval waktu 3 hari.

Penanggulangan parasit ini cukup sulit. Stadia tomont berbentuk kista sangat tahan terhadap obat-obatan, sedangkan stadia trophonts seringkali masuk cukup dalam ke jaring daging ikan. Namun demikian perlakuan seperti tersebut di bawah ini dan telah banyak memberikan hasil yaitu :

* Celupkan ke dalam formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam tergantung kepada
daya tahan ikan.

* Celupkan ke dalam formalin 100 ppm dan acriflavin 10 ppm selama 1 jam. Celupkan dalam campuran formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama 12 jam.

* Menggunakan nitrofurazone 30 ppm selama 12 jam.

* Menggunakan methyllene blue 0,1 ppm selama setengah jam.

* Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk ikan kakap dan kerapu lumpur).

Perlakuan tersebut diulangi 2 sampai 3 kali. Pengobatan juga dapat dilakukan dengan percampuran obat dalam ransum makanan, yaitu menggunakan metronidozone 5 gram untuk setiap kilogram makanan selama 10 hari.  Berdasarkan hasil percobaan, gejala penyakit cryptocaryoniasis akan terlihat dalam waktu 5 hari setelah ikan sehat diolesi insang dari ikan yang sakit. Tindakan yang perlu diambil untuk menanggulangi penyakit ini adalah sebagai berikut :

* Isolasi ikan-ikan yan ternyata sakit khususnya benih/gelondongan sejauh mungkin dari ikan-ikan yang sehat.

* Ambil ikan-ikan yang mati atau sakit parah dari keramba untuk kemudian dimusnahkan.

* Lakukan pengobatan sedini mungkin (begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang terserang penyakit ini) untuk memotong siklus hidup penyakit ini dan jangan sampai menjadi stadia kista serta terbentuknya tomite (stadia muda dan berenang bebas dari Cryptocaryon irritans).



  
BAB III

PENUTUP

Ikan Merupakan salah satu hewan yang dapat terserang penyakit. Penyakit ikan dapat disebabkan oleh bakteri, protozoa, maupun cacing. Cryptocaryoniasis merupakan salah satu penyakit yang menyerang pada ikan yang disebabkan oleh Cryptocaryon irritans (protozoa). Ikan yang terserang parasit ini memiliki bintik bintik putih ditubuhnya. Ikan yang terserang peyakit ini dapat dicegah dengan berbagai cara, antara lain dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Berbagai jenis bahan kimia telah digunakan untuk melakukan kontrol terhadap parasit ini. Melakukan pemisahan ikan dari cysta tomon sebelum menjadi theront, dengan melakukan pemindahan ikan pada akuarium yang bersih setiap selang 3 hari. Untuk penanggulangan penyakit ini cukup sulit, karena Stadia tomont berbentuk kista sangat tahan terhadap obat-obatan, sedangkan stadia trophonts seringkali masuk cukup dalam ke jaring daging ikan.


DAFTAR PUSTAKA

Anshary, Hilal. 2008. Modul Pembelajaran Berbasis Student Center Learning (SCL) Mata Kuliah Parasitologi Ikan. Makasar: Universitas Hassanudin

Departemen Perikanan. 2001. Pedoman Teknis Penanggulangan Penyakit Ikan Budidaya Laut. Jakarta: Departemen Pertanian



http://www.thesaltybox.com/1/3506-cryptocaryon_irritans.html

Belum ada Komentar untuk "Makalah Penyakit pada Ikan : Cryptocaryoniasis oleh Cryptocaryon Irritans"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel