Makalah Sejarah Indonesia : Kerajaan Banten


MAKALAH
KERAJAAN BANTEN


 
Disusun untuk memenuhi tugas Mata pelajaran Sejarah Indonesia
Guru Mapel : Uswatun Hasanah, S.Pd



Oleh :
Johan Bahtiar
Maman Rohmana
Riyan Hidayat
Zidan Sutio
Kelas X TSM B






SMK MA�ARIF NU 01 KETANGGUNGAN
KECAMATAN KETANGGUNGAN
BREBES
2018

Kata Pengantar

Assalamu�alaikum wr.wb
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kami telah berhasil menyusun resume tentang �Kerajaan Banten� ini, yang bertujuan untuk memenuhi tugas dari guru Sejarah kami, dan sekaligus bertujuan untuk memperluas, serta mempermudah mengenali kerajaan Islam di Indonesia

Kami mengharapkan dengan tersusunya makalah ini, dapat melengkapi perpustakaan sekolah dan berguna bagi pembacanya, khususnya siswa-siswi

Wassalamu�alaikum wr.wb
Sindangjaya, 08 Februari 2018

Hormat Kami

Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN

A.    RUMUSAN MASALAH
Dimanakah lokasi Kerajaan Banten ?
Bagaimana sejarah terbentuknya Kerajaan Banten ?
Bagaimana Aspek Kehidupan masyarakat Kerajaan Banten ?
Bagaimana Sistem Ekonomi Kerajaan Banten ?
Bagaimana Sistem Sosial Kerajaan Banten ?
Bagaimana Sistem Politik Kerajaan Banten ?
Bagaiamana Sistem Budaya Kerajaan Banten ?
Bagaimana Puncak kejayaan Kerajaan Banten ?
Bagaimana Masa kesultanan Kerajaan Banten ?
Bagaimana Kemunduran Kerajaan Banten ?
Apa saja Peninggalan kerajaan Banten ?

B.     Tujuan Penulisan
Mengetahui Lokasi Kerajaan Banten
Mengetahui Sejarah Kerajaan Banten
Mengetahui Aspek Kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Banten
Mengetahui Sistem Ekonomi Kerajaan Banten
Mengetahui Sistem Sosial Kerajaan Banten
Mengetahui Sistem Politik Kerajaan Banten
Mengetahui Sistem Budaya Kerajaan Banten
Mengetahui Puncak kejayaan Kerajaan Banten
Mengetahui Masa kesultanan Kerajaan Banten
Mengetahui Kemunduran Kerajaan Banten
Mengetahui Peninggalan kerajaan Banten



BAB II
PEMBAHASAN

Lokasi Kerajaan Banten
Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di propinsi Banten.Wilayah kekuasaan Banten meliputi bagian barat Pulau Jawa, seluruh wilayah Lampung, dan sebagian wilayah selatan Jawa Barat. Situs peninggalan Kerajaan Banten tersebar di beberapa kota seperti Tangerang, Serang, Cilegon, dan Pandeglang. Pada mulanya, wilayah Kesultanan Banten termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda.




Peta letak kerajaan Banten

Kerajaan Banten menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan yang melalui Selat Sunda.Dengan posisi yang strategis ini Kerajaan Banten berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa dan bahkan menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia.VOC merupakan perserikatan dagang yang dibuat oleh kolonial Belanda di wilayah kepulauan Nusantara.

Kerajaan Banten
Perkembangan Awal Kerajaan Banten Semula Banten menjadi daerah kekuasaan KerajaanPajajaran.Rajanya (Samiam) mengadakan hubungandengan Portugis di Malaka untuk membendungmeluasnya kekuasaan Demak. Namunmelalui, Faletehan, Demak berhasil mendudukiBanten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.v Pada tahun 1552 M, Faletehan menyerahkanpemerintahan Banten kepada putranya,Hasanuddin. Dibawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1552-1570M), Banten cepat berkembang menjadi besar.Wilayahnyameluas sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.vPada awalnya kawasan Banten juga dikenal denganBanten Girang merupakan bagian dari kerajaan sunda.Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinanMaulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untukperluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwahIslam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal inidianggap dapat membahayakan kedudukan KerajaanDemak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dariMelaka tahun 1513..

Selain mulai membangun benteng pertahanan diBanten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkanperluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada diLampung.Ia berperan dalam penyebaran Islam dikawasan tersebut, selain itu ia juga telahmelakukan kontak dagang dengan rajaMalangkabu (Minangkabau, KerajaanInderapura), Sultan Munawar Syah dandianugerahi keris oleh raja tersebut.v Seiring dengan kemunduran Demak terutamasetelah meninggalnya Trenggana,Banten yangsebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulaimelepaskan diri dan menjadi kerajaan yangmandiri.

Sejarah


                    De Stad Bantam, lukisan cukilan lempeng logam (engraving) karya Fran�ois Valentijn, Amsterdam, 1726

Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan BantenGirang merupakan bagian dari KerajaanSunda. Kedatangan pasukan KerajaanDemak di bawah pimpinan MaulanaHasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasamaSunda � Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513. Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan PelabuhanKelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda.

Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, KerajaanInderapura), SultanMunawarSyah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.

Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnyaTrenggana Banten yang sebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri. MaulanaYusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan PakuanPajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya MaulanaMuhammad, yang mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha

Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut.

Pada masa PangeranRatu anak dari MaulanaMuhammad, ia menjadi raja pertama di PulauJawa yang mengambil gelar �Sultan� pada tahun 1638 dengan nama ArabAbu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Pada masa ini Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada pada waktu itu, salah satu diketahui surat Sultan Banten kepada RajaInggris, JamesItahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles.
Aspek kehidupan masyarakat
Aspek kehidupan kerajaan Banten meliputi :

Sistem Ekonomi
Dalam meletakan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai diperkenalkan. Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran dari naskah sanghyangsiksakandangkaresian yang menceritakan adanya istilah pahuma (peladang), panggerek (pemburu) dan panyadap (penyadap). Ketiga istilah ini jelas lebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatanya seperti kujang, patik, baliung, kored dan sadap.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16 000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 000 ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-an petani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunantebu, yang didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng, perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan.

Tak dapat dipungkiri sampai pada tahun 1678, Banten telah menjadi kota metropolitan, dengan jumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai salah satu kota terbesar di dunia pada masa tersebut.

Sistem Sosial
Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa selain Kerajaan Demak, Kasepuhan Cirebon, Giri Kedaton, dan Mataram Islam.Kehidupan sosial rakyat Banten berlandaskan ajaran-ajaran yang berlaku dalam agama Islam.Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena sultan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah menerapkan sistem perdagangan bebas dan mengusir VOC dari Batavia.

Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhi sebagian besar kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah klenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673.

Sistem Politik


Bendera Kesultanan Banten (1527�1813)

Pada awal berkembangnya masyarakat pantai Banten, Banten merupakan daerah   kekuasaan Kerajaan Pajajaran.Namun pada tahun 1524 wilayah Banten berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah.Pada waktu Demak terjadi perebutan kekuasaan, Banten melepaskan diri dan tumbuh menjadi kerajaan besar.
Setelah itu, kekuasaan Banten diserahkan kepada Sultan Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah.Sultan Hasanudin dianggap sebagai peletak dasar Kerajaan Banten. Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini:
Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah sebagai berikut:
Memajukan wilayah perdagangan.Wilayah perdagangan Banten berkembang sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.
Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten.
Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel.Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita saksikan hingga sekarang di wilayah Pantai Teluk Banten.
Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi Banten didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari kerajaan lain di Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa.
Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja yang gigih menentang pendudukan VOC di Indonesia.Kekuatan politik dan angkatan perang Banten maju pesat di bawah kepemimpinannya.Namun akhirnya VOC menjalankan politik adu domba antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji.Berkat politik adu domba tersebut Sultan Ageng Tirtayasa kemudian berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1629 Masehi.

Sistem Budaya
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16.Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam.Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Puncak Kejayaan
Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu. Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang

Masa SultanAgengTirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau KerajaanTanjungpura (KalimantanBarat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.

 Masa Kesultanan
Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin memerintah pada tahun 1552 � 1570
 Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan memerintah pada tahun 1570 � 1585
 Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana memerintah pada tahun 1585 � 1596
Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Pangeran Ratu memerintah pada tahun 1596 � 1647
Sultan Abu al-Ma�ali Ahmad memerintah pada tahun 1647 � 1651
Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah memerintah pada tahun 1651-1682
Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar memerintah pada tahun 1683 � 1687
Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya memerintah pada tahun 1687 � 1690
Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin memerintah pada tahun 1690 � 1733
Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin memerintah pada tahun 1733 � 1747
Ratu Syarifah Fatimah memerintah pada tahun 1747 � 1750
Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri memerintah pada tahun 1753 � 1773
Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin memerintah pada tahun 1773 � 1799
Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1799 � 1803
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin memerintah pada tahun 1803 � 1808
Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1809 � 1813





Kemunduran kerajaan Banten
Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC di antaranya pada 12Maret1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22Agustus1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung. Selain itu berdasarkan perjanjian tanggal 17April1684, Sultan Haji juga mesti mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC.
Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari GubernurJendralHindiaBelanda di Batavia. SultanAbuFadhlMuhammadYahya diangkat mengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.
Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan SultanAbul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC.

Penghapusan kesultanan
Reruntuhan Kraton Sultan di tahun 1859 (gambar oleh C. Buddingh dari Geschiedenis van Nederlandsch Indi� atau �Sejarah Hindia Belanda�)

Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.
Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

Perang saudara
Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji.Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.[1] Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda. Namun pada 14 Maret1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia.

Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf.[14] Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari1684 sampai di Batavia.






Peninggalan kerajaan Banten

Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat beberapa peninggalan kepurbakalaan yang berasal dari zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI � XVIII)
Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak �artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :

Komplek Keraton Surosowan

Selain istana Keraton Kaibon, Kerajaan Banten di masa silam juga meninggalkan bangunan istana lainnya, yaitu istana Keraton Surosawan. Istana ini adalah tempat tinggal dari Sultan Banten dan menjadi kantor pusat kepemerintahan. Nasib istana Keraton Surosawan juga sama dengan Keraton Banten, hancur luluh. Saat ini tinggal kepingan-kepingan reruntuhannya saja yang dapat kita lihat bersama bangunan kolam pemandiaan para putri.
Komplek Mesjid Agung

Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid ini terletak di Desa Banten Lama, 10 km utara Kota Serang. Dibangun pada tahun 1652 tepat di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, putera pertama Sunan Gunung Jati, masjid ini memiliki beberapa keunikan corak. Keunikan corak masjid Agung Banten di antaranya menaranya berbentuk mirip mercusuar, atapnya menyerupai atap dari pagoda khas gaya arsitektur China, ada serambi di kiri kanan bangunan, serta kompleks pemakaman sultan Banten beserta keluarganya di sekitar kompleks masjid.

Meriam Ki Amuk

Vihara Avalokitesvara
Meski Kesultanan Banten berazaskan atas Islam, toleransi dari penduduk dan pemimpinnya dalam beragama terbilang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah yang berupa bangunan Vihara, tempat ibadah umat Budha. Vihara peninggalan Kerajaan Banten tersebut bernama Avalokitesvara. Hingga kini, kita masih dapat melihatnya. Yang unik, di dinding vihara ini kita juga dapat melihat relief kisah legenda siluman ular putih yang melegenda itu.
Istana Keraton Kaibon Banten
Peninggalan Kerajaan Banten selanjutnya adalah bangunan istana Kaibon. Istana ini dulunya adalah tempat tinggal ibunda Sultan Syaifudin, yakni Bunda Ratu Aisyah. Akan tetapi, saat ini bangunan istana tersebut sudah hancur dan hanya dapat dilihat reruntuhannya saja. Pada saat kerajaan Banten bentrok dengan pemerintah kolonial Belanda pada 1832, Daendels �Gubernur Hindia Belanda, meruntuhkan bangunan bersejarah ini.
Mesjid Pacinan Tinggi
Komplek Keraton Kaibon
Mesjid Koja
Kerkhof
Benteng Spelwijk
Benteng Speelwijk Sebagai poros utama maritim nusantara di masa silam, kerajaan Banten juga meninggalkan bangunan berupa benteng dan mercusuar. Benteng dengan tembok setinggi 3 meter ini bernama Benteng Speelwijk. Dibangun tahun 1585, benteng peninggalan Kerajaan Banten ini berfungsi selain sebagai pertahanan kerajaan dari serangan laut juga berfungsi untuk mengawasi aktifitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Di dalam benteng ini terdapat beberapa meriam kuni dan sebuah terowongan yang menghubungkan antara benteng dan keraton Surosowan.
Klenteng Cina
Watu Gilang
Makam Kerabat Sultan
Mesjid Agung Kenari
Benda-benda purbakala di Museum Banten
Danau Tasikardi
Di sekirar istana Kaibon, kita juga dapat menemukan sebuah danau buatan. Danau tersebut bernama Tasikardi. Danau ini dibuat saat masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, yakni antara tahun 1570 sd 1580. Dahulunya, dasar danau seluas 5 hektar ini dilapisi dengan ubin dan batu bata. Kendati begitu, sekarang luas danau tersebut telah menyusut dan lapisan batu bata di dasarnya telah tertimbuh tanah sedimen yang terbawa arus sungai. Danau Tasikardi pada masa silam berfungsi sebagai sumber utama pasokan air bagi keluarga kerajaan yang tinggal di istana Kaibon serta sebagai saluran irigasi untuk persawahan di sekitar Banten.
Meriam Ki Amuk
Di dalam bangunan benteng Speelwijk terdapat beberapa senjata berupa meriam. Di antara meriam-meriam tersebut yang terbesar dan terunik dinamai meriam Ki Amuk. Dinamakan demikian karena meriam ini terbilang memiliki daya ledak tinggi dan tembakan yang jauh. Konon, meriam ini merupakan hasil rampasan dari pemerintah Kolonial Belanda saat masa peperangan.
Peninggalan Lainnya Selain peninggalan-peninggalan di atas, Kerajaan Banten juga memiliki beberapa peninggalan lainnya yang berupa aksesoris. Di antaranya adalah mahkota binokasih, keris panunggul naga, dan keris naga sasra. Keberaadaan benda-benda bersejarah tersebut hingga kini masih terawat rapi di Museum Kota Banten.











BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
�       Pada tahun 1546, Sultan Trenggono, Sultan kerajaan Demak gugur dalam penyerangan Kerajaan Demak ke Pasuruan. Hal ini menyebabkan terjadinya kekacauan dalam tubuh Kerajaan Demak sendiri. Negara-negara bagian atau kadipaten berusaha untuk memisahkan diri. Kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Hassanudin merupakan salah satu kadipaten yang ikut berusaha melepaskan diri dari kerajaan induknya, Demak. Akhirnya pada tahun 1568, Banten benar-benar terlepas dari kerajaan Demak. Pada tahun tersebut pula, Kerajaan Banten resmi berdiri dengan Maulana Hassanudin sebagai Sultan pertamanya.
�       Islam telah memasuki wilayah Banten sebelum Kesultanan Banten berdiri. Agama ini dibawa oleh para pedagang Arab pada akhir abad ke-15. Karena itu, posisi Banten sebagai jalur perdagangan internasional sangat menentukan dalam penyebaran Islam ke tanah Banten ini.
�       Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kejayaan tersebut berhasil diraih dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, maupun keagamaan. Dalam bidang politik misalnya, Banten selalu membangun hubungan persahabatan dengan daerah-daerah lainnya. Daerah-daerah sahabat Banten yang berada di wilayah nusantara antara lain Cirebon, Lampung, Gowa, Ternate, dan Aceh. Selain itu, Kesultanan Banten juga menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara lain yang jauh dari nusantara. Salah satunya adalah dengan mengirim utusan diplomatik ke Inggris yang dipimpin oleh Tumenggung Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada 10 November 1681.
�       Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa, Belanda sudah memulai taktik untuk menghancurkan Banten dari dalam, yakni dengan menghasut Sultan Haji, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Belanda mengadu domba Sultan Haji dengan ayahnya. Mereka menyebarkan isu bahwa orang yang akan menjadi pewaris tahta Banten adalah Pangeran Purbaya saudara Sultan Haji. Hal ini membuat Sultan Haji merasa iri hati dan memutuskan untuk melancarkan serangan melawan ayahnya sendiri.
�       Peninggalan pertama dari Kesultanan Banten adalah Masjid Agung Banten. Masjid Agung Banten dibangun oleh Sultan Banten, yakni Maulana Hassanuddin dan putranya Maulana Yusuf  pada bulan Dzulhijjah tahun 966 H atau 1566 M. Masjid Agung ini merupakan salah satu peninggalan yang sangat penting dikarenakan itu adalah salah satu dari 4 komponen utama  yang �wajib� ada di pusat kota Jawa zaman dahulu. Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

B.     Saran

Kami selaku penulis mengharapakan kritik dan saran apabila terdapat kesalahan kata dalam penulisan ini. Kritik dan saran yang membangun akan menjadikan kami lebih baik ke depannya dalam penulisan makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2008.
H. Lubis, Nina. Banten dalam Pergumulan Sejarah. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2003 .
http://yohanasariikippgriptk.blogspot.co.id/2017/04/makalah-kerajaan-banten.html

http://kisahasalusul.blogspot.com/2016/05/peninggalan-kerajaan-banten.html

Belum ada Komentar untuk "Makalah Sejarah Indonesia : Kerajaan Banten"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel