Ada Adat yang Salah di Desa Kamal Kecamatan Larangan Brebes, Benarkah ?


Adat yang salah di desa Kamal Kecamatan Larangan Brebes, merupakan informasi yang sangat menarik untuk dibahas. Dengan hal ini, semoga kita bisa meluruskannya. Sehingga setidaknya tidak diteruskan oleh generasi mendatang.

Namun demikian benarkah ada adat yang salah di desa Kamal Kecamatan Larangan Brebes ini?

Baca Juga : Berbagai Keunikan yang Ada di Dusun Karang Bokong, Desa Kamal yang Harus Anda Tahu

Dalam hal ini, penulis tidak akan membahas berbagai adat yang ada di Desa Kamal ini. Namun hanya akan fokus pada suatu hal yang sedang dialami.  Sebab sebagai salah satu warga desa Kamal, tentu penulis bisa benar-benar merasakan dari suatu kebiasaan masyarakat.

Menikah Mencari Nafkah Sendiri Dianggap Tidak Baik

Inilah pokok utama yang ingin kita sama-sama renungkan, untuk kemudian kita nilai apakah ini merupakan bagian dari adat yang salah di desa Kamal, Kecamatan Larangan Brebes.

Setelah menikah, biasanya orangtua mempercayakan sepenuhnya soal nafkah kepada sang suami anaknya. Namun hal ini tidak berlaku di desa Kamal, sebagian besar justru suami baru menjadi tanggungan bagi orang tua istri. Meski terkadang membantu pekerjaan mertua, namun kadang ada juga yang  menganggur.

Usai menikah, penulis yang berada di desa ini sangat tidak nyaman dengan adat ini. Dan langsung membuka usaha sendiri, dan Alhamdulillah bisa mandiri. Namun siapa sangka, jika kemudian hal ini justru dianggap tidak baik, terlebih saat penulis memutuskan untuk berkebun sendiri. Banyak yang menilainya negatif, baik dari masyarakat sekitar maupun mertua.

Menjadi Suami Bukan untuk Memindahkan Beban

Ketika memutuskan menikah, penulis menyadari bahwa ada sebuah tanggung jawab yang harus dilakukan, terutama untuk mencari nafkah menghidupi istri yang baru dinikahinya. Sebab ijab qabul itu bukan masalah sah atau tidak, lebih dari itu berarti pelimpahan tanggung jawab lahir batin, bahkan dunia dan akhirat dari seorang ayah kepada suaminya. Betapa berdosanya seseorang yang menikah, tapi tidak mau mengerjakan kewajibannya.

Dilansir dari dalamislam.com, bahwa Allah telah memerintahkan para suami untuk memberikan nafkah pada istrinya.  Bagaimana pun istri telah memberikan pelayanan untuk suaminya, mulai dari mencuci, memasak dan lainnya. Lantas bagaimana jika suami justru tidak mau mencari nafkah karena malas ? Sungguh sangat tercela, apalagi jika kemudian justru ia mengandalkan uang orang tua istrinya.

Dalam hal ini Allah Ta�ala telah berfirman:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka� (QS. An Nisa: 34)

Kita harus senantiasa sadar, bahwa sebelum menikah seorang wanita tanggung jawabnya ditanggung sepenuhnya oleh orang tuanya. Namun ketika sudah menikah, semua tanggung jawab tersebut berpindah pada suaminya. Oleh karena itu, sebagai seorang suami sudah seharusnya jika kita menyayangi, menjaga, dan juga memberi nafkah yang cukup, seperti memberi uang belanja, membelikan pakaian, dan berbagai keperluannya sesuai dengan kesanggupan.

�Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma�ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.�� (QS. Al-Baqarah 233)

Jika kita tidak memberi nafkah maka sebagai suami berarti kita telah melakukan dosa. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda :

�Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya� (HR. Abu Daud-Ibnu Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Besarnya Pahala Suami Mencari Nafkah

Sebagai orang yang beriman, selalu berusaha menjadikan waktu yang kita lalui bernilai ibadah adalah suatu keharusan. Sebab orang beriman senantiasa sadar, bahwa hidup di dunia hanya sementara dan ajang menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk alam abadi. Tiada misi terbaik bagi seorang muslim, selain hidup mulia atau mati syahid. Tentu karena mati syahid di jamin syurga dengan catatan niatnya adalah lillah, hanya karena Allah. Dan jalan untuk mencapai itu semua adalah dengan berjihad.

Begitu besar pahala berjihad di jalan Allah, dan kabar baiknya sebagai suami kita bisa sering berjihad, tanpa harus mengakat senjata untuk berperang. Tahu kenapa, karena ternyata melaksanakan kewajiban mencari nafkah itu sama dengan jihad.

Baca Juga : Jika Kewajiban Suami Mencari Nafkah Sama dengan Jihad, Lalu Bagaimana dengan Istri yang Mengurus Anak dan Lainnya?

Dilansir dari risalahislam.com, Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, �Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, �Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!�

Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda:

????? ??????? ??????? ???? ???? ?????? ? ???? ????? ????? ??????????? ????? ??????? ???????? ??? ??? ??? ????? ??? ???? ????? ?????? ????? ???????? ????? ??????? ???????????


�Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.� (HR Thabrani, Al-Mu�jam Al-Ausath).

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, �Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.� (Lihat Tafsir al-Qur�an al-�Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah).

Selain Berdosa Ini Bahaya Suami Bergantung pada Mertua

Sekalipun merupakan suatu kebiasaan, dan hal inilah yang penulis katakan ada adat yang salah di desa Kamal, Kecamatan Larangan, Brebes. Sebab biasanya memang, pihak orang tua wanita tidak keberatan tetap menanggung tanggung jawab anak perempuannya plus ditambah menantunya. Bahkan mereka biasanya baru mau melepaskan tanggung jawabnya tersebut, jika sudah membuatkan rumah bagi anak dan menantunya itu. Selain berdosa ternyata ada bahaya lain loh para pria sejati.

Dalam kehidupan berumah tangga kita tahu jalan tak selalu mulus, selalu ada problem yang siap kapan saja menghampiri tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Di sinilah salah satu bahaya, seorang suami bisa kehilangan wibawanya. Bukan hal yang mustahil jika kemudian istri atau mertuanya mengusirnya dari rumah, sebab rumah yang ditempatinya bukan hasil kerja keras dirinya, namun hasil kerja keras mertuanya.

Ringannya, setiap ada masalah ia akan mengungkit-ungkit pemberiannya, bahkan meremehkan kedudukan Anda sebagai seorang suami. Banyak sekali nilai negatif lainnya, namun hal inilah yang paling sering terjadi.

Oleh karena itu, bagi saya pribadi lebih baik bekerja keras beberapa tahun untuk membangun rumah dan membeli berbagai keperluan lainnya, dari pada dibelikan atau dibuat mertua tapi harus dibayar oleh luka batin seumur hidup. Ingat selalu pemberian adalah belenggu, jika kita terbiasa hidup dari pemberian makan kita akan susah mandiri, sebab hidupnya selalu bergantung pada pemberian.

Bekerja keraslah, membeli dari hasil keringat sendiri itu lebih nikmat dan nyaman. Dan selama kita membeli dari hasil keringat sendiri, kita tidak perlu bingung hendak membeli apapun, sebab tidak harus minta persetujuan atau menunggu diberi uang terlebih dahulu. Bukan tidak mungkin anak istrimu akan menjadi korban, sebab mereka tidak bisa membeli apa yang mereka butuhkan dan inginkan.

Demikian penjelasan dari saya mengenai ada adat yang salah di desa Kamal, Kecamatan Larangan Brebes. Semoga menginspirasi. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, silahkan bisa menggunakan kolom komentar di bawah ini.

Belum ada Komentar untuk "Ada Adat yang Salah di Desa Kamal Kecamatan Larangan Brebes, Benarkah ?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel